Minggu, 18 November 2018

MENGHARUKAN, BEGINILAH LIKA LIKU KEHIDUPAN SUNAN GIRI




Wali atau ulama yang satu ini merupakan keturunan ke-23 dari silsilah Rasulullah SAW, sedangkan jika dilihat dari silsilah ibunya, Sunan Giri merupakan keturunan dari Raja Majalahit yakni Hayam Wuruk. Berdasarkan silsilah tersebut, Sunan Giri adalah benar-benar sebagai seorang keturunan bangsawan disamping keturunan seorang ulama. Sunan Giri memiliki nama asli yakni Raden Paku. 

Nama Raden Paku sendiri diberikan oleh Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat)  atau Sunan Ampel yang didasarkan dari pesan ayahnya sebelum meninggalkan Jawa Timur. Sunan Giri mempunyai sebutan lainnya, di antaranya: Ainul Yaqin, Abdul Faqih, Prabu Satmata dan Jaka Samudra. Nama Jaka Samudra sendiri diberikan oleh ibu angkatnya, sementara Prabu Samata merupakan suatu gelar kebesaran sebagai anugerah tuhan ketika Sunan Giri menjabat sebagai penguasa atau sultan di wilayah Giri Gresik. Di antara sekian banyaknya nama atau sebutan yang diberikan kepada Sunan Giri menggambarakan betapa terkenalnya beliau di masyarakat disebabkan jasa besar yang diberikan Sunan Giri kepada masyarakat di Nusantara (Asia Tenggara). 

Sunan Giri lahir pada tahun 1365 Saka/ 1443 Masehi di Blambangan, Jawa Timur. Beliau adalah anak dari Syaikh Maulana Ishaq, hasil perkawinannya dengan putri Blambangan. Dimana masyarakat Jawa lebih mengenalnya dengan nama Dewi Sekardadu. Diceritakan bahwasannya Syikh Maulana Ishaq atau Syeh Wali Lanang awal mulanya sengaja datang ke tanah Jawa untuk berdakwah di Nusantara, beliau juga terrcatat sebagai Wali Songo periode pertama.

Ketika diberi tugas untuk berdakwah di ujung timur pulau Jawa tepatnya di kerajaan Blambangan, kondisi puteri raja saat itu sedang sakit dikarenakan wabah yang menyerang Blambangan. Maka oleh raja Blambangan, Syaikh Maulana Ishaq diminta untuk mengobati puteri tersebut. Syaikh Maulana Ishaq pun berhasil mengobati Puteri dari raja Blambangan, sebagai ucapan terima kasih dari sang raja maka beliau pun dinikahkan dengan puteri tersebut. Namun siapa sangka, keinginan Syaikh Maulana Ishaq untuk membawa sang raja menjadi seorang muslim mendapat penolakan sang patih, agar tidak terjadi pertentangan maka Syaikh Maulana Ishaq pun pergi meninggalkan istana.

Pada saat itu, Dewi Sekardadu dalam keadaan hamil tua dan tidak berapa lama kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki, yaitu Sunan Giri. Sunan Giri sejak dalam kandungan sudah mengalami cobaan, dimana ia ditinggalkan oleh ayahnya untuk berdakwah, ketika dilahirkan ia dibuang oleh Raja Menak Sembuyu atas hasutan Patih Bajul Sengara dengan cara dimasukkan ke dalam peti kemudian dibuang ke laut. Sunan Giri ditemukan oleh seorang bangsawan yang sedang berlajar beliau adalah Nyai Ageng Pinatih seseorang yang sudah tidak bersuami dan tidak memiliki anak.

Nyai Ageng Pinatih juga dikenal dengan nama Nyai Gede Tandhes, seorang wanita bangsawan terhormat di Gresik. Sewaktu Sunan Giri berumur 12 tahun, ia dibawa ibu angkatnya ke pesantren Ampel Denta Surabaya, yang mana Sunan Ampel sendirilah yang mengajarinya. Sunan Giri dikenal genius, rajin dan selalu mentaati gurunya. Ia memiliki kelebihan-kelebihan dan keistimewaan sejak kecil sehingga Raden Rahmat atau sunan Ampel mengangkat Sunan Giri menjadi anak angkatnya dengan dipersaudarakan Syaikh Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang.

Sunan Giri lalu dinikahkan dengan saudara perempuan dari Syaikh Maulana Makdum Ibrahim yakni Dewi Murtashiyah, puteri Sunan Ampel dengan Nyai Karimah kembang kuning. Selain menikahi puteri Sunan Ampel, Sunan Giri juga menikahi Dewi Wardah, puteri dari Kyai Ageng Bungkul atau Sunan Bungkul, seorang pembesar kota Surabaya yang masih keturunan Majapahit.

Setelah merasa cukup ilmu, Sunan Giri membuka pesantren di daerah perbukitan Desa sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik. Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Pesantren itu pun kemudian berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang dikenal dengan nama Giri Kedaton. Masa pemerintahan Sunan Giri di Giri Kedaton berlangsung dari 1487 M s/d 1506 M. Sunan Giri wafat pada tahun 1506 M. Namun dalam masa  masa ini beliau kehilanggan sosok yang merawatnya sejak kecil yakni kewafatan sang ibunda angkat Nyai Ageng Pinatih sehingga beliau menunda pembukaan pesantrennya dalam beberapa waktu.

Kiprah Dakwah Sunan Giri dalam Perkembangan Islam di Nusantara
Sumber tradisi Jawa menuturkan perjuangan Sunan Giri dalam mendapatkan lokasi yang strategis seperti yang disarankan oleh guru sekaligus ayahandanya Syaikh Maulana Ishaqdilakukan dengan menyiapkan segala kekuatan fisik maupun mental spiritual, bermunajat kepada Allah SWT disertai dengan khadamnya. Berjalan melewati bukit, hingga tibalah ia disebuah tempat yang sekarang terletak di Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Gresik.

 Di tempat inilah Sunan Giri mendirikan masjid dengan pesantren serta rumah untuk para keluarganya. Pada taraf perkembangannya, tempat tersebut menjadi pusat kekuasaan Giri dengan terwujudnya Giri Kedaton.  Ketika Raden Rahmat meninggal (1475 M), Ampel Denta dan Gresik digabungkan atas izin raja Majapahit.

Dalam perkembangan selanjutnya, pusat dakwah yang telah didirikan oleh Sunan Giri mengalami perkembangan fungsi, yang pada awalnya sebagai pusat aktivitas pendidikan agama berkembang menjadi pusat kegiatan politik. Hal ini diceritakan di buku “Babad Hing Gresik” : Raden Paku (Sunan Giri) hanggenipun babat-babat hung nedi kedaton dampun dados wewengkon dalem, saha sampun dados kedaton tunda sapta, sepale kangge shalat sepale kangge tilem”.

Munculnya Giri Kedaton, membawa dampak positif bagi perkembangan Islam di wilayah Giri. Kedaton yang dilambangkan sebagai lambang kebesaran dan kemegahan bagi pemerintahan yang syah menambah kewibawaan pemimpin atau raja yang berkuasa. Sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kerajaan-kerajaan Islam di Jawa yakni adanya : alun-alun, istana dan pasar.

Pertumbuhan Giri Kedaton mencakup lembaga pendidikan dan pusat pemerintahan ulama. Sebagai lembaga mendidikan, Giri Kedaton menjadi madrasah tempat beliau mengajar agama islam kepada para santrinya, yang dikenal dengan madrasah Giri atau pesantren Giri. Sebagai pusat pemerintahan ulama, ini diawali dari kemerosotan pemerintahan Majapahit. Melihat kejayaan pemerintahan Sunan Giri, maka penguasa Majapahit saat itu berusaha menumbangkan kejayaan Sunan Giri namun bukan kemenangan yang didapat melainkan kegagalan. Untuk tetap menjaga kestabilan Majapahit saat itu, maka raja Majapahit mengakui dan menjadikan Sunan Giri beserta Sunan Ampel menjadi orang-orang besar kerajaan Majapahit. Setelah mendapatkan pengakuan tersebut, Sunan Ampel dan Sunan Giri beserta tokoh agama lainnya, menjadikan Giri Kedaton sebagai pusat dakwah. Inilah salah satu metodedakwah Wali Songo dapat diterima semua kalangan karena akhlaq dari Wali Songo yang sangat luhur dan bijaksana seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam berdakwah.

Metode Dakwah Sunan Giri
Sunan Giri sebagai penggerak Islam yang berpusat di Giri Kedaton, tidak luput dari peranannya dengan metode dakwah seperti yang dilakukan para penyebar Islam lainnya, yaitu dengan mendirikan pesantren guna mendidik anak-anak negeri dengan pengetahuan agama. Selain itu, upaya yang dilakukan Sunan Giri dalam mendekatkan Islam kepada anak-anak yakni dengan menciptakan lagu serta permainan dengan memasukkan unsur-unsur jiwa agamis.

Di antara permainan anak-anak yang diciptakan oleh Sunan Giri yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Timur adalah “Jelungan” atau “Jitungan”. Dalam permainan ini disimbolkan dengan satu tonggak kayu atau pohon yang kuat. Adapun filosofi dari permainan ini adalah mengajarkan manusia tentang keselamatan hidup yakni dengan cara berpegang teguh pada agama. Selain itu Sunan Giri juga menciptakan lagu atau tembang yakni “Dolanan Bocah” dan “Ilir-ilir”.  

Contoh Keteladanan dari Sunan Giri
Keteladanan yang dapat kita petik dari kisah Sunan Giri bahwasanya dalam menyebarkan Islam, tentunya diperlukan strategi-strategi agar kegiatan dakwah kita berjalan baik dan mengalami perkembangan. Strategi yang ditunjukkan Sunan Giri khususnya dalam bidang politik yakni dengan menjadi “Sang Propaganda Ulung”, dimana ia mampu menaklukkan Majapahit tanpa harus mengorbankan pertumpahan darah sehingga akhirnya Majapahit mengakui kekuasaan beliau dan memberikan kebebasan dalam berdakwah.

Menjadi seorang ulama tentunya tidak hanya pengetahuan agama yang diperlukan, namun juga kepintaran dalam pengetahuan umum, dan juga kemampuannya dalam bernegosiasi dan kepemimpinannya di pemerintahan. Karena itu, salah satu cara agar keberadaan kita diakui oleh pemerintahan adalah dengan ikut berkecimpung dalam bidang politik sehingga dengan pengakuan dan legalitas yang kita dapatkan diharapkan menjadi kemudahan bagi kita dalam menyebarkan Islam. 

Jejak Sejarah yang dapat dikunjungi
Adapun jejak sejarah yang dapat kita kunjungi yakni dengan mendatangi makam sunan Giri. Ini bukan hanya sekedar makam biasa, namun dijadikan sebagai wisata. Yang mana pada gapura pintu masuk makam tersebut terbuat dari batu yang berbentuk sepasang kepala naga raja, bangunan beratap di atas makam sebagai pelindung makam terbuat dari kayu jati asli, dindingnya terdiri dari panel (disebut juga lumber sering) tumbuh-tumbuhan, sedangkan pintu cungkup terdapat ukiran bermotif hindu yang dipadukan dengan motif islami yaitu tumbuh-tumbuhan. Selain itu terdapat Giri Kedaton di Desa Sidomukti, yang tak jauh dari makam Sunan Giri. Disana terdapat bangunan yang menjadi saksi bisu pusat kejayaan Islam di Nusantara hingga mancanegara.

Sumber :
Muntaha, Moh. 1993. SUNAN GIRI ( Studi Tentang Eksistensinya dalam Kedaton Giri Dresik). IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Santosa, Budi., Antariksa dan Lisa Dwi Wulandari. 2014. Dinamika Ruang Wisata Religi Makam Sunan Giri di Kabupaten Gresik. Jurnal el Haraqah Vol. 16 No.2.



Share:

Jumat, 16 November 2018

MASYA'ALLAH, SEKOLAH DI GRESIK INI BIASAKAN MURIDNYA BACA AL QUR'AN SETIAP JELANG PROSES BELAJAR MENGAJAR




GRESIK - Ribuan siswa SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik dibawah pimpinan Drs. H. Agus Syamsudin, MA senantiasa berbenah terkait pengembangan SDM para siswa, Salah satu rutinitas yang digalakkan adalah membiaskan siswa membaca al-Quran sebelum proses belajar mengajar dimulai.
Menurut Putri Balqis Syaifuddin siswa kelas XII SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik yang juga Duta SMA NU 1 Gresik mengatakan dengan berdoa dan membaca Alquran sebelum memulai kegiatan belajar merupakan salah satu upaya membentuk karakter siswa sebagai generasi bangsa yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.
“Saya merasa dengan dimulainya doa dan membaca Al Qur’an dapat membimbing para siswa lebih beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.”
Gadis yang juga terpilih sebagai Duta GenRe Gresik ini juga menambahkan “Siswa adalah amanah. Hatinya masih suci ibarat permata yang mahal harganya. Apabila ia dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya ia akan tumbuh besar dengan sifat yang baik dan akan bahagia dunia akhirat. Sebaliknya, bila ia dibiasakan dengan tradisi-tradisi buruk, tidak diperdulikan maka akan melahirkan akhlak yang buruk pula.” Jelas putri Balqis.
“Disamping membaca siswa juga kita ajarkan beberapa hal terkait adab dan tata cara membaca Al-Quran, hal ini guna menambah wawasan mereka ketika membaca Al-Quran.” Tambah Putri Balqis.
Ia juga menambahkan untuk membiasakan yang baik itu memang sulit dan banyak tantangan, namun apabila sudah terbiasa maka kita akan merasakan manfaat siraman Al Qur’an dan insya allah sikap dan prilaku kita akan semakin baik pula.


Share:

RANGKAIAN ACARA HAUL SYAIKH MAULANA MALIK IBRAHIM


RANGKAIAN ACARA HAUL SYAIKH MAULANA MALIK IBRAHIM (SUNAN GRESIK)


Ahad, 18 November 2018 M (10 Robi’ul Awwal 1440 H)
Pukul 14.00 WIB :
Pawai arak – arakan santri TPQ dari Pendopo Kabupaten Gresik keaula makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim dengan iringan Drum Band
1.       Tahlil Santri TPQ
2.       Pildacil
3.       Handrah Santri TPQ

Senin, 19 November 2018 M (11 Robi’ul Awwal 1440 H)
Pukul 20.00 WIB :
Pembacaan Sholawat Nabi bersama hadrah ISHARI Provinsi Jawa Timur

Selasa, 20 November 2018 M (12 Robi’ul Awwal 1440 H)
Pukul 08.00 WIB :
HAFLATUL MAULID & HAUL SYAIKH MAULANA MALIK IBRAHIM
1.       Arak – arakan ulama dan umaro dari Pendopo Kabupaten Gresik ke aula makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim
2.       Pembacaan Diba’
3.       Pembacaan ayat suci Al Qur’an
4.       Pembacaan Yasin dan Tahlil
5.       Sambutan panitia / penggurus makam
6.       Pembacaan Manaqib Syaikh Maulana Malik Ibrahim
7.       Ceramah Ustadz Ahmad bin Muhammad Al Habsyi
8.       Do’a penutup
9.       Ziarah ke makam Syaikh Maulana Malik Ibrahim

Pukul 19.00 WIB :
PENGAJIAN UMUM
Sambutan dan ceramah agama dan kebangsaan
1.       KH. Mochtar Jamil
2.       Habib Umar Al Muthohar
3.       Habib Ja’far Al Kaff
4.       Jend. (Purn) Gatot Nurmantyo

Rabu, 21 November 2018 M (13 Robi’ul Awwal 1440 H)
Pukul 13.00 WIB :
Tahlil wanita / pengajian umum dan santunan anak yatim, ceramah agama Ustadzah Halimah Alaydrus

Ahad, 25 November 2018 M (17 Robi’ul Awwal 1440 H)
Pukul 04.00 WIB :
Majlis Al ur’an Dzikrudz Dzakirin
Pukul 20.00 WIB :
Do’a Khotmul Qur’an





Share:

Minggu, 11 November 2018

GELAR LDKS, SMP NU 2 GRESIK SIAPKAN KADER PEMIMPIN BANGSA


Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) merupakan kegiatan rutin saat memasuki tahun ajaran baru, Seperti halnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nahdlatul Ulama 2 Gresik kembali menggelar kegiatan LDKS sejak 10 -11 November 2018 di Bukit Condrodipo, Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Membentuk kader pemimpin bangsa yang berkualitas, kompeten ,bertanggung jawab, dan penuh dedikasi” Diikuti puluhan siswa penggurus PK dan OSIS.
Kepala Sekolah Hadi Suwito menuturkan kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian yang dapat menciptakan kader bangsa berkualitas, bertanggung jawab, Kompeten dan Berdedikasi tinggi untuk bangsa dan negara
“Kegiatan bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian Soal bagaimana kemudian menciptakan kader-kader bangsa yang berkualitas bertanggung jawab,kompeten dan dedikasi yang tinggi untuk bangsa dan negara.” Pungkas Kepala Sekolah
Salah satu materi yang menarik dalam kegiatan tersebut adalah Materi Manajemen Konflik dan pengambilan keputusan yang disampaikan oleh Pemateri.
Menurut Indrawan kegiatan ini merupaka upaya membangun tradisi siswa dalam kegiatan keilmuan, dimana selama ini kegiatan yang paling mendominasi adalah kegiatan olahraga dan seni, “Kegiatan ini penting adanya , karena sejauh ini pemuda hanya monoton kepada kegiatan olahraga dan seni, sehingga perlu dibiasakan kegiatan dari Segi keilmuan.” Katanya.

Share:

Sabtu, 10 November 2018

SEBUAH DESA DI GRESIK MENJADI SAKSI BISU KEJAYAAN ISLAM DI NUSANTARA




Nama Sidomukti hampir ada disetiap daerah, namun berbeda dengan kebanyakan desa Sidomukti di beberapa daerah. Desa Sidomukti di kawasan Pegiren ini memiliki nilai historis yang menjadi saksi bisu masa kejayaan Islam di Nusantara (Asia Tenggara) dibawah kesultanan Giri yang dipimpin Sunan Giri dan keturunannya.

Di desa ini merupakan pesantren pertama sekaligus pusat Kesultanan Gir. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan Istana Giri Kedaton yang berfungsi sebagai Masjid, Pondok Pesantren, serta tempat musyawarah untuk mengelolah tatanan masyarakat dalam pemerintahan sebagai salah satu metode dakwah. 

Merujuk dari keberadaan serta posisi Istana Giri Kedaton terdapat beberapa kawasan yang saat ini disebut dusun yang memiliki peranan penting dalam tata kota kesultanan Giri, disebelah utara tepatnya di dusun Jraganan. Istilah Jraganan merujuk pada sebutan wilayah yang dulunya tempat pemukiman para saudagar kaya atau jeragan yang mayoritas berprofesi sebagai pengrajin logam mulia berupa emas dan sebagai penyokong dana dari keberlangsungan kesultanan Giri.

Disisi timur dari Istana Giri Kedaton terdapat dusun bernama Dalem Wetan yang berarti Istana atau rumah, dan wetan berarti timur. Istilah Dalem Wetan merujuk pada wilayah pemukiman penduduk yang dulunya merupakan lokasi tempat tinggal keluarga Kasunanan atau keluarga besar Kasunanan yang lokasinya berada di wetan “timur”. 

Sidomukti sebagai pusat Kesultanan Giri juga dapat dilihat disisi selatan Istana Giri Kedaton terdapat Pasar Gede, Alun-alun Contong, Tambakboyo, dan Kemudinan. Pasar Gede merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai karena dekat dengan pusat kesultanan. Alun-alun Contong sendiri merupakan tempat berkumpulnya para Sunan serta pejabat kesultanan dalam upaya membaurkan diri sehingga tidak adanya batasan serta mempermudah masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya kepada Sunan maupun jajarannya.

Tak hanya itu disekitar Alun-alun Contong merupakan pusat pemukiman penduduk yang dibuktikan adanya balai desa serta adanya pertigaan sebagai akses utama menuju desa lain. Masih disisi selatan , terdapat dusun bernama Tambakboyo yang dulunya merupakan kawasan pertahanan kesultanan Giri dan dikawasan tersebut terdapat daerah bernama Cumpleng yang berarti tempat mengasah senjata. Di dusun Kemudinan yang berasal dari kata Mudin yang berarti pemimpin umat Islam di daerah, Kemudinan sendiri dulunya merupakan pemukiman yang di diami para mudin serta ulama setempat. 



Share:

Jumat, 02 November 2018

4 KESULTANAN ISLAM YANG SANGAT BERJASA MENYEBARKAN DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA


Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan peradaban yang tinggi, hal ini dibuktikan banyaknya kerajaan besar yang tersebar dianatara penjuru Nusantara. Beberapa kerajaan bercorak Hindu-Budha seperti Majapahit, Singasari, Sriwijaya dan lainnya mungkin tidak asing bagi kita. Namun, tahukah anda bahwa ada 5 Kesultanan Islam yang sangat berpengaruh di Nusantara hingga Mancanegara. Berikut ulasannya :


1.    Kesultanan Giri

Sejarah Kesultanan Giri memang tak banyak dijelaskan dalam literatur, karena keteguhannya menyebarkan Islam berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah serta dikenal sangat menentang penjajahan Belanda yang bekerjasama dengan Kerajaan Mataram Islam dibawah kekuasaan Amangkurat yang berhaluan Syi’ah Kejawen.

Kesultanan ini pada mulanya merupakan Pesantren yang dibangun tahun 1470-an oleh Syaikh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) salah seorang Wali Songo dan berkembang menjadi Kesultanan pada tanggal 4 Rabi’ul Awwal 1892 Hijriyah (9 Maret 1487) yang berlokasi diatas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Ketauladanan Sunan Giri sebagai seorang ulama yang arif dan bijaksana serta memiliki kecerdasan dan akhlaqul karimah membuat Kesultanan ini terus berkembang. Uniknya kesultanan ini tidak memiliki wilayah administratif yang pasti namun fatwanya menjadi acuan para raja-raja Islam di Nusantara. Bahkan seorang raja Islam di Nusantara merasa belum sah menjadi raja apabila tidak dilantik di Giri Kedaton oleh Sultan Giri yang tak lain adalah Sunan Giri dan keturunannya. Sunan Giri beserta para keturunan dan santrinya berdakwah ke penjuru Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, bahkan pada masa Sunan Prapen (cucu Sunan Giri) dakwah Islam sudah mencapai di tanah Papua, Bali, dan Nusa Tenggara.

Beberapa peninggalan dari Kesultanan Giri, yaitu Masjid Sunan Giri, Giri Kedaton, Kitab (Fiqih dan Tasawuf) Sitina karya Sunan Giri, Kitab Primbon Agung (Medis, Astronomi, dll) karya Sunan Giri , Telogo Pegat dan sebagainya.

Berikut daftar Sultan Giri :
a.       Syaikh Maulana Ainul Yaqin “Sunan Giri”                    (1487 –  1506)
b.      Syaikh Maulana Zainal Abidin “Sunan Dalem”             (1506 – 1546)
c.       Sunan Seda ing Margi                                                     (1546 – 1548)
d.      Syaikh Maulana Fatichal “Sunan Prapen”                       (1548 – 1605)
e.       Panembahan Kawisguwo                                                 (1605 – 1610)
f.       Panembahan Agung                                                          (1610 – 1612)
g.      Panembahan Sedangrana                                                  (1612 – 1619)
h.      Panembahan Mas Witono                                                 (1619 – 1660)
i.        Pangeran Puspahita                                                           (1660 – 1680)
j.        Pangeran Singo Negara                                                    (1703 – 1725)
k.      Pangeran Singosari                                                           (1725 – 1744)

2.    Kesultanan Demak

Kesultanan Demak secara administratif merupakan Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada awalnya wilayah ini bernama Bintoro, salah wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena semakin lemahnya pengaruh Kerajaan Majapahit, hal tersebut mengakibatkan beberapa penguasa daerah mulai membangun wilayah kekuasaannya sendiri, termasuk penguasa Islam di pesisir pantai Jawa. Hal ini tidak terlepas dari jasa Wali Songo yang mampu mempersatukan kekuatan Islam di Nusantara, khususnya tanah Jawa.

Mereka  membangun wilayah kekuasaan Islam dengan menunjuk Raden Patah sebagai raja dari Kesultanan Islam pertama di Pulau jawa ini. Setelah diangkat menjadi raja, Raden Patah mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama.

Kesultanan Demak berdiri pada tahun 1478. Palembang, Maluku, Banjar, dan wilayah bagian utara pulau jawa merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Demak. Pada saat ulama penempati peranan penting di dalam kerajaan, Wali Songo adalah penasehat kerajaan. Tahun 1518 Raden Patah digantikan oleh Putranya yang bernama Pati Unus. Pada masa kepemimpinannya Adipati Unus atau yang sering dijuluki Pangeran Sabrang Lor ini bersama dengan Kerajaan Aceh menyerang penjajah Portugis yang menduduki Malaka pada saat itu.

Pati Unus meninggal pada tahun 1521 dan digantikan oleh adiknya, yaitu Sultan Trenggono. Kesultanan ini mengalami kemunduran karena perebutan kekuasaan antar pewarisnya. Beberapa peninggalan Kesultanan Demak, yaitu Masjid Agung Demak, Soko Tatal dan Soko Guru, Pintu Bleedek, Kentongan, Bedug, Dampar Kencana, Pirim Campa, Kolam Wudhu, dan Makrusah.

Berikut daftar Sultan Demak :
a.       Raden Patah “Sunan Demak”                                         (1500 – 1518)
b.      Raden Abdul Qadir “Pati Unus”                                     (1518 – 1521)
c.       Sultan Trenggana                                                            (1521 – 1526)
d.      Raden Mukmin “Sunan Prawoto”                                  (1546 – 1549)
e.       Arya Penangsang                                                            (1549 – 1554)

3.    Kesultanan Cirebon

Kesultanan ini berdiri pada tahun 1522, didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Kerajaan ini merupakan Kesultanan Islam pertama di Jawa Barat. Sunan Gunung Jati berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Karena kedudukannya sebagai Wali Songo, sehingga beliau banyak dihormati oleh raja-raja lain di pulau Jawa, seperti raja dari Demak dan Pajang. Di bawah kepemimpinannya juga Kerajaan Cirebon ini memiliki banyak wilayah kekuasaan.

Sunan Gunung Jati meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh cicitnya yang bergelar Panembahan Ratu. Pada tahun 1650 Panembahan meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Penaembahan Girilaya. Setelah Panembahan Girilaya meninggal Kesultanan Islam Cirebon dibagi menjadi dua (tahun 1697) oleh kedua puranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom).

Beberapa peninggalan dari Kerajaan Islam Cirebon ini, yaitu Masjid Jami’ Pakuncen, Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kacirebonan, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Makan, dan beberapa benda pusaka.

Berikut daftar Sultan Cirebon :
a.       Syarif Hidayatullah “Sunan Gunung Jati”                     (1478 – 1495)
b.      Pangeran Muhammad Arifin                         
c.       Pangeran Sedang Kamuning                          
d.      Pangeran Emas Zainul Arifin                                        (1568 – 1649)
e.       Pangerang Sedang Gayam
f.       Panembahan Girilaya                                                    (1649 – 1662)

4.    Kesultanan Banten

Kesultanan ini didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanudin, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Setelah berhasil menaklukan Banten pada tahun 1525 Sunan Gunung Jati menyerahkan kekuasaan Banten kepada putranya tersebut.

Di bawah kepemimpinannya Kesultanan Banten semakin kuat dan memiliki banyak wilayah kekuasaan, bahkan sampai ke Sumatera selatan dan Kelampung. Sultan Hasanudin menikah dengan putri Kerajaan Demak, yaitu putri dari Sultan Indrapura.

Kerajaan ini mencapai puncak kekuasaannya pada saat kepemimpinan Ki Ageng Tirtayasa.  Beberapa peninggalan Kerajaan Islam Banten ini, yaitu Istana Keraton Surosowan Banten, Istana Keraton Kaibon Banten, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Meriam Ki Amuk, Danau Tasikardi, Keris Naga Sasra, dan Keris Panunggul Naga.

Berikut daftar Sultan Banten :
a.       Sultan Maulana Hasanuddin                                           (1552 – 1570)
b.      Sultan Maulana Yusuf                                                     (1570 – 1585)
c.       Sultan Maulana Muhammad                                          (1585 – 1596)
d.      Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir                 (1596 – 1647)
e.       Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad                                          (1647  – 1651)
f.       Sultan Ageng Tirtayasa                                                   (1651 – 1683)



Share:

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.