Minggu, 11 November 2018

GELAR LDKS, SMP NU 2 GRESIK SIAPKAN KADER PEMIMPIN BANGSA


Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) merupakan kegiatan rutin saat memasuki tahun ajaran baru, Seperti halnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Nahdlatul Ulama 2 Gresik kembali menggelar kegiatan LDKS sejak 10 -11 November 2018 di Bukit Condrodipo, Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Membentuk kader pemimpin bangsa yang berkualitas, kompeten ,bertanggung jawab, dan penuh dedikasi” Diikuti puluhan siswa penggurus PK dan OSIS.
Kepala Sekolah Hadi Suwito menuturkan kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian yang dapat menciptakan kader bangsa berkualitas, bertanggung jawab, Kompeten dan Berdedikasi tinggi untuk bangsa dan negara
“Kegiatan bertujuan untuk membentuk karakter kepribadian Soal bagaimana kemudian menciptakan kader-kader bangsa yang berkualitas bertanggung jawab,kompeten dan dedikasi yang tinggi untuk bangsa dan negara.” Pungkas Kepala Sekolah
Salah satu materi yang menarik dalam kegiatan tersebut adalah Materi Manajemen Konflik dan pengambilan keputusan yang disampaikan oleh Pemateri.
Menurut Indrawan kegiatan ini merupaka upaya membangun tradisi siswa dalam kegiatan keilmuan, dimana selama ini kegiatan yang paling mendominasi adalah kegiatan olahraga dan seni, “Kegiatan ini penting adanya , karena sejauh ini pemuda hanya monoton kepada kegiatan olahraga dan seni, sehingga perlu dibiasakan kegiatan dari Segi keilmuan.” Katanya.

Share:

Sabtu, 10 November 2018

SEBUAH DESA DI GRESIK MENJADI SAKSI BISU KEJAYAAN ISLAM DI NUSANTARA




Nama Sidomukti hampir ada disetiap daerah, namun berbeda dengan kebanyakan desa Sidomukti di beberapa daerah. Desa Sidomukti di kawasan Pegiren ini memiliki nilai historis yang menjadi saksi bisu masa kejayaan Islam di Nusantara (Asia Tenggara) dibawah kesultanan Giri yang dipimpin Sunan Giri dan keturunannya.

Di desa ini merupakan pesantren pertama sekaligus pusat Kesultanan Gir. Hal ini dapat dibuktikan dengan keberadaan Istana Giri Kedaton yang berfungsi sebagai Masjid, Pondok Pesantren, serta tempat musyawarah untuk mengelolah tatanan masyarakat dalam pemerintahan sebagai salah satu metode dakwah. 

Merujuk dari keberadaan serta posisi Istana Giri Kedaton terdapat beberapa kawasan yang saat ini disebut dusun yang memiliki peranan penting dalam tata kota kesultanan Giri, disebelah utara tepatnya di dusun Jraganan. Istilah Jraganan merujuk pada sebutan wilayah yang dulunya tempat pemukiman para saudagar kaya atau jeragan yang mayoritas berprofesi sebagai pengrajin logam mulia berupa emas dan sebagai penyokong dana dari keberlangsungan kesultanan Giri.

Disisi timur dari Istana Giri Kedaton terdapat dusun bernama Dalem Wetan yang berarti Istana atau rumah, dan wetan berarti timur. Istilah Dalem Wetan merujuk pada wilayah pemukiman penduduk yang dulunya merupakan lokasi tempat tinggal keluarga Kasunanan atau keluarga besar Kasunanan yang lokasinya berada di wetan “timur”. 

Sidomukti sebagai pusat Kesultanan Giri juga dapat dilihat disisi selatan Istana Giri Kedaton terdapat Pasar Gede, Alun-alun Contong, Tambakboyo, dan Kemudinan. Pasar Gede merupakan pusat perdagangan yang sangat ramai karena dekat dengan pusat kesultanan. Alun-alun Contong sendiri merupakan tempat berkumpulnya para Sunan serta pejabat kesultanan dalam upaya membaurkan diri sehingga tidak adanya batasan serta mempermudah masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya kepada Sunan maupun jajarannya.

Tak hanya itu disekitar Alun-alun Contong merupakan pusat pemukiman penduduk yang dibuktikan adanya balai desa serta adanya pertigaan sebagai akses utama menuju desa lain. Masih disisi selatan , terdapat dusun bernama Tambakboyo yang dulunya merupakan kawasan pertahanan kesultanan Giri dan dikawasan tersebut terdapat daerah bernama Cumpleng yang berarti tempat mengasah senjata. Di dusun Kemudinan yang berasal dari kata Mudin yang berarti pemimpin umat Islam di daerah, Kemudinan sendiri dulunya merupakan pemukiman yang di diami para mudin serta ulama setempat. 



Share:

Jumat, 02 November 2018

4 KESULTANAN ISLAM YANG SANGAT BERJASA MENYEBARKAN DAKWAH ISLAM DI NUSANTARA


Indonesia dikenal sebagai bangsa dengan peradaban yang tinggi, hal ini dibuktikan banyaknya kerajaan besar yang tersebar dianatara penjuru Nusantara. Beberapa kerajaan bercorak Hindu-Budha seperti Majapahit, Singasari, Sriwijaya dan lainnya mungkin tidak asing bagi kita. Namun, tahukah anda bahwa ada 5 Kesultanan Islam yang sangat berpengaruh di Nusantara hingga Mancanegara. Berikut ulasannya :


1.    Kesultanan Giri

Sejarah Kesultanan Giri memang tak banyak dijelaskan dalam literatur, karena keteguhannya menyebarkan Islam berhaluan Ahlussunah Wal Jama’ah serta dikenal sangat menentang penjajahan Belanda yang bekerjasama dengan Kerajaan Mataram Islam dibawah kekuasaan Amangkurat yang berhaluan Syi’ah Kejawen.

Kesultanan ini pada mulanya merupakan Pesantren yang dibangun tahun 1470-an oleh Syaikh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) salah seorang Wali Songo dan berkembang menjadi Kesultanan pada tanggal 4 Rabi’ul Awwal 1892 Hijriyah (9 Maret 1487) yang berlokasi diatas sebuah bukit di Dusun Kedaton, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik.

Ketauladanan Sunan Giri sebagai seorang ulama yang arif dan bijaksana serta memiliki kecerdasan dan akhlaqul karimah membuat Kesultanan ini terus berkembang. Uniknya kesultanan ini tidak memiliki wilayah administratif yang pasti namun fatwanya menjadi acuan para raja-raja Islam di Nusantara. Bahkan seorang raja Islam di Nusantara merasa belum sah menjadi raja apabila tidak dilantik di Giri Kedaton oleh Sultan Giri yang tak lain adalah Sunan Giri dan keturunannya. Sunan Giri beserta para keturunan dan santrinya berdakwah ke penjuru Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, bahkan pada masa Sunan Prapen (cucu Sunan Giri) dakwah Islam sudah mencapai di tanah Papua, Bali, dan Nusa Tenggara.

Beberapa peninggalan dari Kesultanan Giri, yaitu Masjid Sunan Giri, Giri Kedaton, Kitab (Fiqih dan Tasawuf) Sitina karya Sunan Giri, Kitab Primbon Agung (Medis, Astronomi, dll) karya Sunan Giri , Telogo Pegat dan sebagainya.

Berikut daftar Sultan Giri :
a.       Syaikh Maulana Ainul Yaqin “Sunan Giri”                    (1487 –  1506)
b.      Syaikh Maulana Zainal Abidin “Sunan Dalem”             (1506 – 1546)
c.       Sunan Seda ing Margi                                                     (1546 – 1548)
d.      Syaikh Maulana Fatichal “Sunan Prapen”                       (1548 – 1605)
e.       Panembahan Kawisguwo                                                 (1605 – 1610)
f.       Panembahan Agung                                                          (1610 – 1612)
g.      Panembahan Sedangrana                                                  (1612 – 1619)
h.      Panembahan Mas Witono                                                 (1619 – 1660)
i.        Pangeran Puspahita                                                           (1660 – 1680)
j.        Pangeran Singo Negara                                                    (1703 – 1725)
k.      Pangeran Singosari                                                           (1725 – 1744)

2.    Kesultanan Demak

Kesultanan Demak secara administratif merupakan Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa. Pada awalnya wilayah ini bernama Bintoro, salah wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena semakin lemahnya pengaruh Kerajaan Majapahit, hal tersebut mengakibatkan beberapa penguasa daerah mulai membangun wilayah kekuasaannya sendiri, termasuk penguasa Islam di pesisir pantai Jawa. Hal ini tidak terlepas dari jasa Wali Songo yang mampu mempersatukan kekuatan Islam di Nusantara, khususnya tanah Jawa.

Mereka  membangun wilayah kekuasaan Islam dengan menunjuk Raden Patah sebagai raja dari Kesultanan Islam pertama di Pulau jawa ini. Setelah diangkat menjadi raja, Raden Patah mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayyidina Panatagama.

Kesultanan Demak berdiri pada tahun 1478. Palembang, Maluku, Banjar, dan wilayah bagian utara pulau jawa merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Demak. Pada saat ulama penempati peranan penting di dalam kerajaan, Wali Songo adalah penasehat kerajaan. Tahun 1518 Raden Patah digantikan oleh Putranya yang bernama Pati Unus. Pada masa kepemimpinannya Adipati Unus atau yang sering dijuluki Pangeran Sabrang Lor ini bersama dengan Kerajaan Aceh menyerang penjajah Portugis yang menduduki Malaka pada saat itu.

Pati Unus meninggal pada tahun 1521 dan digantikan oleh adiknya, yaitu Sultan Trenggono. Kesultanan ini mengalami kemunduran karena perebutan kekuasaan antar pewarisnya. Beberapa peninggalan Kesultanan Demak, yaitu Masjid Agung Demak, Soko Tatal dan Soko Guru, Pintu Bleedek, Kentongan, Bedug, Dampar Kencana, Pirim Campa, Kolam Wudhu, dan Makrusah.

Berikut daftar Sultan Demak :
a.       Raden Patah “Sunan Demak”                                         (1500 – 1518)
b.      Raden Abdul Qadir “Pati Unus”                                     (1518 – 1521)
c.       Sultan Trenggana                                                            (1521 – 1526)
d.      Raden Mukmin “Sunan Prawoto”                                  (1546 – 1549)
e.       Arya Penangsang                                                            (1549 – 1554)

3.    Kesultanan Cirebon

Kesultanan ini berdiri pada tahun 1522, didirikan oleh Sunan Gunung Jati. Kerajaan ini merupakan Kesultanan Islam pertama di Jawa Barat. Sunan Gunung Jati berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Karena kedudukannya sebagai Wali Songo, sehingga beliau banyak dihormati oleh raja-raja lain di pulau Jawa, seperti raja dari Demak dan Pajang. Di bawah kepemimpinannya juga Kerajaan Cirebon ini memiliki banyak wilayah kekuasaan.

Sunan Gunung Jati meninggal pada tahun 1570 dan digantikan oleh cicitnya yang bergelar Panembahan Ratu. Pada tahun 1650 Panembahan meninggal dan digantikan oleh putranya yang bergelar Penaembahan Girilaya. Setelah Panembahan Girilaya meninggal Kesultanan Islam Cirebon dibagi menjadi dua (tahun 1697) oleh kedua puranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom).

Beberapa peninggalan dari Kerajaan Islam Cirebon ini, yaitu Masjid Jami’ Pakuncen, Masjid Sang Cipta Rasa, Keraton Kacirebonan, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Makan, dan beberapa benda pusaka.

Berikut daftar Sultan Cirebon :
a.       Syarif Hidayatullah “Sunan Gunung Jati”                     (1478 – 1495)
b.      Pangeran Muhammad Arifin                         
c.       Pangeran Sedang Kamuning                          
d.      Pangeran Emas Zainul Arifin                                        (1568 – 1649)
e.       Pangerang Sedang Gayam
f.       Panembahan Girilaya                                                    (1649 – 1662)

4.    Kesultanan Banten

Kesultanan ini didirikan pada tahun 1552 oleh Sultan Hasanudin, yang merupakan anak dari Sunan Gunung Jati. Setelah berhasil menaklukan Banten pada tahun 1525 Sunan Gunung Jati menyerahkan kekuasaan Banten kepada putranya tersebut.

Di bawah kepemimpinannya Kesultanan Banten semakin kuat dan memiliki banyak wilayah kekuasaan, bahkan sampai ke Sumatera selatan dan Kelampung. Sultan Hasanudin menikah dengan putri Kerajaan Demak, yaitu putri dari Sultan Indrapura.

Kerajaan ini mencapai puncak kekuasaannya pada saat kepemimpinan Ki Ageng Tirtayasa.  Beberapa peninggalan Kerajaan Islam Banten ini, yaitu Istana Keraton Surosowan Banten, Istana Keraton Kaibon Banten, Masjid Agung Banten, Vihara Avalokitesvara, Benteng Speelwijk, Meriam Ki Amuk, Danau Tasikardi, Keris Naga Sasra, dan Keris Panunggul Naga.

Berikut daftar Sultan Banten :
a.       Sultan Maulana Hasanuddin                                           (1552 – 1570)
b.      Sultan Maulana Yusuf                                                     (1570 – 1585)
c.       Sultan Maulana Muhammad                                          (1585 – 1596)
d.      Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir                 (1596 – 1647)
e.       Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad                                          (1647  – 1651)
f.       Sultan Ageng Tirtayasa                                                   (1651 – 1683)



Share:

Jumat, 26 Oktober 2018

KISAH TAN GO HWAT (SYAIKH BENTONG)




Tan Go Hwat atau Syaikh Bentong atau Syaikh Bantiong (Kiai Bah Tong) atau Syaikh Darugem merupakan seorang ulama sekaligus saudagar berkebangsaan Cina. Beliau adalah putra Syaikh Maulana Hasanuddin (Syaikh Tan Quro A’in atau Syaikh Quro) bin Syaikh Yusuf Siddiq bin Syaikh Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad Shahibul Mirbad bin Ali Kholi Qosam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Al Naqib bin Ali Ar Aridhi bin Jakfar As Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Karamallahuwajhah, suami Fathimah binti Nabi Muhammad Shollahu alaihi wassalam. Beliau datang dari Tiongkok bersama armada angkatan laut Tiongkok dalam misi persahabatan.

Pada tahun 1416 M, armada angkatan laut Tiongkok mengadakan pelayaran keliling, atas perintah Kaisar Cheng-Hu atau Kaisar Yunglo, Kaisar Dinasti Ming yang ketiga. Armada angkatan laut tersebut dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho alias Sam Po Tay Kam seorang muslim. Dalam rombongan armadanya, terdapat seorang Ulama Islam bernama Syekh Hasanudin berasal dari Campa, bermaksud berdakwah di Jawa. Dalam pelayaran menuju Majapahit, armada Cheng Ho singgah di Pura, Karawang. Ketika armada Cheng Ho singgah di Pura Karawang, Syekh Hasanudin atau Syekh Quro dan pengiringnya turun, di antara pengiringnya adalah putranya yang bernama Syekh Bentong alias Kiyai Bah Tong alias Tan Go Wat.

Syaikh Bentong selanjutnya tinggal di Gresik menjadi Saudagar dan da’i. Beliau menikah dengan Siu Te Yo, ia mempunyai seorang putri diberi nama Siu Ban Ci, putri ini yang diperistri oleh Prabu Brawijaya V Kertabumi Raja Majapahit. Dari perkawinannya dengan Siu Ban Ci, memperoleh putra yang diberi nama Jin Bun oleh Kakeknya. Jin Bun alias Praba alias Raden Hasan alias Raden Fatah atau Raden Patah (Sunan Demak) selanjutnya menjadi Senapati Jin Bun Ngabdur Rahman Panembahan Palembang Sajidin Panatagama menjadi Sultan dari Kesultanan Demak pertama.

Syaikh Bentong selanjutnya ikut bersama Syaikh Maulana Hasanuddin (Syaikh Quro) menyebarkan agama Islam di Karawang bersama isterinya. Beliau wafat dan dimakamkan di Kampung Pulobata, Kabupaten Karawang.

Ditulis oleh Wahyu Firmansyah

Share:

Rabu, 24 Oktober 2018

KISAH NYAI AGENG TUMENGKANG SARI


Nyai Ageng Tumengkang Sari adalah putri Sunan Weruju bin Syaikh Maulana Ainul Yaqin bin Syaikh Maulana Ishaq bin Syaikh Ibrahim Asmaraqandi bin Syaikh Jamaluddin Husein bin Ahmad bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad Shahibul Mirbad bin Ali Kholi Qosam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Al Naqib bin Ali Ar Aridhi bin Jakfar As Shodiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali Karamallahuwajhah, suami Fathimah binti Nabi Muhammad Shollahu alaihi wassalam.

Nyai Ageng Tumengkang Sari tumbuh sebagai wanita berparas cantik dan sholehah serta sangat berjasa pada penyebaran agama Islam kepada masyarakat setempat. Kemampuannya dalam pengetahuan dunia medis diaplikasikan untuk membantu masyarakat yang sedang sakit ataupun melahirkan tanpa meminta imbalan. Sebagian masyarakat masih percaya dengan bermunajad di pusara Nyai Ageng Tumengkang Sari dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala maka proses persalinan bayinya akan menjadi gangsar (muda dan lancar). Para peziarah itu biasanya membawa minyak kelapa dan air dari Sumur Songo yang diyakini berkhasiat terutama membantu proses melahirkan.


Sumur Songo sendiri menjadi cikal bakal nama Dusun yang berarti sumur sembilan. Keberadaan sumur songo tidak terlepas dari kisah pinangan seorang raja yang tampan dan kaya kepada Nyai Ageng Tumengkang Sari. Namun sang raja bersikeras tidak mau memeluk agama Islam sebagai syarat yang diajukan Nyai Ageng Tumengkang Sari. Untuk mengagalkan niat sang raja, Nyai Ageng Tumengkang Sari memberikan syarat kepada sang raja untuk membuat sepuluh sumur dalam waktu semalam. Syarat yang diajukan untuk membuat sepuluh sumur dalam semalam pun dapat dipenuhi oleh sang raja. 

Namun, Nyai Ageng Tumengkang Sari tidak kehabisan ide untuk menolak seara halus, beliau menghitung jumlah sumur tersebut dengan cara mendudukinya salah satu sehingga jumlah yang dapat dihitung hanya berjumlah sembilan. Kecerdasaan Nyai Ageng Tumengkang Sari membuatnya terhindar dari pernikahan beda agama, beliau tetap berpegang teguh pada syari’at Islam yang tidak memperbolehkan menikah beda agama. Sayangnya beliau wafat dalam keadaan muda dan belum menikah.


Nyai Ageng Tumengkang Sari wafat pada tanggal 12 Shafar di Dusun Sumur Songo, Kelurahan Sidokumpul, Kecamatan Gresik. Dalam cungkup pusara makam terdapat makam Nyai Ageng Tumengkang Sari dan Buyut Susilowati yang merupakan dayang (pengikut) setia beliau. Disekitar cungkup utama terdapat beberapa nisan pengikut beliau yang jga sangat berjasa kepada masyarakat diantaranya Mbah Brojol (Brojol = Melahirkan) dan Mbah Goplo.


Sebuah batu andesit berbentuk lumpang yang kala itu dipergunakan untuk membuat jamu masih bisa kita saksikan di halaman cungkup utama. Sayangnya alu yang berfungsi sebagai penumbuk bahan jamu tidak saya temukan, entah ke mana? hilang atau disimpan, saya kurang tahu.

Follow : Wisata Gresik













Share:

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.